Pengurusan HutangPrinsip Syariah

Hutang Menurut Islam

Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Hutang akan Dihukumi Sebagai Pencuri.

Dari Shuhaib Al Khair, Rasulullah saw. bersabda,

“Sesiapa sahaja yang berhutang, lalu berniat tidak mahu melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadith ini hasan sahih)

Al Munawi mengatakan, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka” (Faidul Qodir, 3/181). Ibnu Majah membawakan hadith di atas pada Bab “Barangsiapa berhutang dan berniat tidak ingin melunasinya”. Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,

“Barangsiapa yang mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411).

Di antara maksud hadith ini adalah barangsiapa yang mengambil harta manusia melalui jalan hutang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan hutang tersebut, maka Allah pula akan menghancurkannya.

Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berhutang dan enggan untuk melunasinya.

Masih Berhutang, Enggan Disembahyangkan

Dari Salamah bin Al Akwa’ ra, beliau berkata:

Kami duduk di sisi Nabi saw. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu baginda bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu baginda mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu baginda saw menyembahyangkan jenazah tersebut.

Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah solatlah dia!” Lalu baginda bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Ya.” Lalu baginda mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau menyembahyangkan jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Solatkanlah dia!” Baginda bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu baginda bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Baginda berkata, “Solatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, solatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyembahyangkannya.” (HR. Bukhari no. 2289)

Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah saw bersabda,

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)

Oleh karena itu, seseorang hendaklah berfikir apabila hendak berhutang: “Adakah aku terdesak untuk berhutang, dan mampukah aku membayar hutang tersebut?” Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar sahaja.

Kenapa Nabi saw sering berlindung dari hutang ketika solat?

Nabi saw sering berlindung dari berhutang ketika solat. Imam Bukhari membawakan dalam kitab sahihnya pada bab “Siapa yang berlindung dari hutang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadith dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa: “Nabi saw biasa berdo’a di akhir solat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak hutang).”

Lalu ada yang berkata kepada baginda saw, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dalam masalah hutang?” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397).

Al-Muhallab mengatakan, “Dalam hadith ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah do’a Nabi saw ketika berlindung dari hutang dan hutang itu sendiri dapat membawa kepada dusta.” (Syarah Ibnu Baththol, 12/37)

Adapun hutang yang Nabi saw berlindung darinya adalah tiga bentuk hutang:

[1] Hutang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi hutang tersebut.
[2] Berhutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya.
[3] Berhutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya.

Orang-orang seperti inilah yang apabila berhutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang seperti inilah yang ketika berkata akan berdusta (Syarah Ibnu Baththol, 12/38). Itulah sikap jelek orang yang berhutang sering berbohong dan berdusta. Semoga kita dijauhkan dari sikap jelek ini.

Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) pula mengatakan, “Nabi saw meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak hutang akan mendatangkan kerugian di dunia.”

Inilah do’a yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari hutang: ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak hutang).

Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Hutangnya

Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam bab “Siapa saja yang memiliki hutang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadith dari Ummul Mukminin Maimunah.

Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebahagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Ya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku saw bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadith ini sahih kecuali kalimat fiddunya – di dunia -)

Dari hadith ini ada pelajaran yang sangat berharga iaitu kita dibolehkan berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.

Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah saw bersabda:

“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadith ini sahih).

Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar hutang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya atau melunasi sebahagiannya jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berhutang dan orang yang memberi hutang.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari no. 2393)

Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya hutang, mudahkanlah kami untuk melunasinya. Semoga bermanfaat.

Jika artikel ini memberi manfaat kepada anda, mohon dikongsikan juga kebaikan dan manfaat ini dengan orang lain, agar kebaikan ini dapat diperkembangkan.

Rasulullah saw bersabda:
“Sampaikanlah kalian daripadaku walaupun sepotong ayat.” ~ Hadis Riwayat Bukhari

Sabda Baginda saw lagi: 
“Sebaik-baik manusia adalah orang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain” ~ Hadis Ibn Hibban

Semoga Allah mengurniakan sebaik-baik balasan kepada anda di atas perkongsian kebaikan yang bermanfaat ini.

Terima kasih.

.

Artikel Berkaitan

Back to top button